Menampilkan postingan yang diurutkan menurut relevansi untuk kueri Dunia. Urutkan menurut tanggal Tampilkan semua postingan
Menampilkan postingan yang diurutkan menurut relevansi untuk kueri Dunia. Urutkan menurut tanggal Tampilkan semua postingan

Selasa, 05 Desember 2017

CEDERAI PENDIDIKAN NTT, PENA BALI PROTES MENDIKBUD MUHADJIR EFFENDY

Assalamualaikum Warrahmatullahi Wabbarakatuh

Selamat Pagi

Mendikbudku.com - Puluhan wartawan asal NTT yang tergabung dalam Komunitas Pena NTT Bali protes keras dengan pernyataan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy terkait dengan isi pemberitaan yang dimuat di Jawa Pos edisi 4 Desember 2017.

Sebelumnya, Mendikbud menyebut, berdasar survei Program for International Students Assesement (PISA), kualitas pendidikan RI masuk ranking paling bawah.

dunia pendidikan ntt, mendikbud muhajir effendy, pena bali
Gambar Ilustrasi

Mendikbud menyebut jika sampel dari survei itu adalah siswa-siswi asal NTT. Dalam berita itu ada kutipan langsung, “Saya khawatir yang dijadikan sampel Indonesia adalah siswa-siswa dari NTT semua”.

Ketua Pena NTT Bali Emanuel Dewata Oja mengatakan, kalimat langsung ini sejatinya terbentuk dari mindset seorang menteri bahwa orang dari NTT itu bodoh semua.

Pernyataan itu, kata dia, telah melukai hati orang NTT. Bukan hanya orang di NTT, tetapi melukai hari orang NTT yang ada di seluruh Indonesia, bahkan seluruh dunia.

“Sebagai seorang menteri dan apalagi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, seharusnya pernyataan seperti itu tidak perlu disampaikan di depan publik tanpa data yang benar,” tutur Edo – sapaan akrabnya, di Denpasar, kemarin.

Apakah benar bahwa PISA melakukan survei di NTT, ataukah survei dari berbagai daerah di Indonesia. Ini menjadi pertanyaan besar karena seorang menteri menyampaikan data PISA secara tidak jelas.

“Kami meminta agar Pak Menteri yang terhormat segera mengklarifikasinya,” ujarnya. Menurut Edo, masyarakat NTT yang ada di Bali meminta Menteri Muhadjir Effendy memberi penjelasan.

“Kami berharap Bapak Presiden segera mengambil tindakan tegas. Dan kalau bisa dicopot karena melukai masyarakat NTT dan dunia pendidikan NTT,” ujar pengurus inti Pena NTT.

dunia pendidikan ntt, mendikbud muhajir effendy, pena bali

Ambros Boli Berani sebagai salah satu pengurus Pena NTT mengatakan, memang benar secara kuantitatif mutu pendidikan NTT masih rendah.

Namun secara kualitatif, banyak juga orang NTT yang menduduki posisi penting di negeri ini. Banyak menteri dari zaman ke zaman juga diisi orang NTT.

Sebut saja nama-nama seperti Frans Seda (Mantan Menteri Perkebunan dan Dubes Belgia era  Soekarno hingga Soeharto), Sony Keraf (Menteri Lingkungan Hidup era Megawati),

Adrianus Moi (Gubernur Bank Indonesia era Soeharto), Jakob Nuwa Wea (Menakertrans era Megawati), Saleh Husin (Mantan Menteri Perindustrian era Jokowi), dan Nafsiah Mboy (Menteri Kesehatan era SBY).

Belum lagi beberapa staf ahli. Seperti Komjen (Purn) Gories Mere. Orang-orang ini berjasa dalam pemberantasan terorisme di Indonesia.

Banyak lagi orang NTT yang berjasa di negeri ini yang namanya tidak dikenal. Ia juga menyebut bahwa banyak juga guru besar, profesor, yang mengabdi di berbagai perguruan tinggi di Indonesia.

Banyak juga tokoh pers dan pemimpin redaksi di berbagai media di Indonesia. Pengurus senior Pena NTT Apolo Daton mencurigai jika Menteri Muhadjir Effendy tidak mempertimbangkan apa yang diucapkannya.

“Kalau Pak Muhadjir mengatakan orang NTT itu bodoh, itu ibarat membuang ludah ke langit dan menepuk air di dulang. Toh Pak Muhadjir adalah seorang menteri.

Kalau orang NTT itu bodoh, menteri juga harus dievaluasi. Ini tanggungjawab siapa. Menteri Pendidikan yang bertanggungjawab terhadap kualitas pendidikan di NTT,” ujarnya.

Ia menduga jika kemiskinan dan kebodohan NTT menjadi bahasa proposal lalu dijadikan bahan untuk bargaining di tingkat nasional dan dunia.

"Saya kecewa seorang Muhadjir Effendy yang saya anggap sebagai tokoh pendidikan justru mendiskriminasi pendidikan NTT. Jadi Menteri ini harus dicopot," ujarnya.

Sumber : jawapos.com

Demikian berita terkini yang dapat mendikbudku.com sampaikan, silakan dishare.

Kamis, 30 November 2017

PECAHKAN REKOR DUNIA, INILAH TEMPE KEDELAI 'RAKSASA' ASAL INDONESIA

Assalamualaikum Warrahmatullahi Wabbarakatuh

Selamat Siang

Pemerintah Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah sukses memecahkan rekor dunia dengan menciptakan tempe kedelai lokal terbesar.

Tempe raksasa berukuran 7 meter x 10 meter dengan ketebalan 5 sentimeter itu berhasil mengantongi sertifikat dari Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI).

Pecahkan Rekor Dunia, Inilah Tempe Kedelai 'Raksasa' Asal Indonesia
Gambar Ilustrasi

Pengakuan resmi tertulis itu diserahkan oleh Eksekutif Manajer Muda MURI, Sri Widayati kepada Bupati Grobogan, Sri Sumarni di sela acara pembukaan Expo Grobogan Ekonomi Kreatif, di Alun-alun Purwodadi Grobogan, Kamis (30/11/2017). 

Penyerahan sertifikat MURI juga disaksikan oleh Gubernur Jateng, Ganjar Pranowo, Dirjen Tanaman Pangan Kementan RI, Sumardjo Gatot Irianto dan lainnya.

Sri Widayati menyampaikan, tempe berukuran fantastis ini tak hanya menyandang predikat rekor nasional melainkan menembus rekor dunia.

"Tempe kedelai raksasa di Grobogan ini mengalahkan rekor jenis serupa yang dibuat di Malang berukuran 6 meter x 9 meter," katanya.

Tempe raksasa ini jika dipotong akan menjadi 21.000 potong tempe kemasan normal. Tempe dibuat dalam kurun waktu tiga hari dengan bahan baku sebanyak 2 ton kedelai lokal.

Pengerjaan dilakukan oleh 75 orang perajin tempe, PPS (penyuluh pertanian swadya), pegawai Dinas Pertanian, dan lainnya.

"Untuk pembuatan tempe berukuran besar ini disiapkan kedelai lokal sekitar 2 ton. Pembuatan tempe juga didukung Dinas Pertanian Grobogan dan berbagai pihak lainnya. Tempe kita pamerkan, sebagian diolah, sebagian dibagikan untuk pengunjung," kata Kabag Perekonomian Setda Kabupaten Grobogan, Pradana Setyawan.

Usai penyerahan penghargaan, kegiatan kemudian dilanjutkan dengan mengunjungi lokasi pembuatan tempe raksasa yang ditempatkan di ruang rapat paripurna II DPRD Kabupaten Grobogan. 

Bupati Grobogan, Sri Sumarni, menyatakan, pembuatan tempe sengaja dipilih dengan bahan baku kedelai lokal yang saat ini terus saja dikembangkan oleh Pemkab Grobogan. 

Kedelai lokal yang asli tumbuh subur di bumi Grobogan, tentunya bukan GMO (Genetically Modified Organisms). GMO adalah kedelai yang telah ditingkatkan kemampuan genetisnya melalui rekayasa genetis.

Pengunjung menyaksikan tempe raksasa di ruang rapat paripurna II DPRD Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah, Kamis (30/11/2017).‎

Penggunaan bahan kedelai lokal ini salah satu tujuannya untuk mengurangi ketergantungan terhadap impor. 

"Langkah ini untuk membuktikan bahwa kualitas varietas kedelai petani Grobogan memang jempolan. Dengan kata lain kedelai Grobogan non GMO yang sehat dikonsumsi. Untuk lahan kedelai kami siap bekerjasama dengan Perhutani dari lahan seluas 20.000 hektar menjadi 100.000 hektar," kata Sri Sumarni.

Sumardjo Gatot Irianto mengapresiasi langkah Pemkab Grobogan yang terus mengembangkan varietas kedelai non-GMO. Sumardjo berharap pengembangan kedelai unggulan alami ini juga diwujudkan oleh daerah lain. 

"Saya harap kedelai non-GMO bisa disajikan saat rapat instansi maupun pelayanan konsumsi di rumah sakit milik daerah. Grobogan diharapkan mampu menyediakan lahan seluas 100 ribu hektar? untuk kedelai dan Jateng seluas 1 juta hektar lahan kedelai," pungkasnya.

Sumber : tribunnews.com

Demikian berita terkini yang dapat disampaikan, silakan dishare.

Jumat, 24 November 2017

7 SELEB INDONESIA INI PERNAH JADI GURU LHO, NOMOR 3 SAMPAI RELA MENGAKHIRI KARIRNYA DEMI MENGAJAR

Assalamualaikum Warrahmatullahi Wabbarakatuh

Selamat Hari Guru Nasional

Mendikbudku.com - Masih pada ingat kalau 25 November itu diperingati sebagai hari apa?

Yap, pada hari Sabtu (15/11/2017) besok, seluruh masyarakat Indonesia akan merayakan Hari Guru Nasional.

Hari Guru Nasional sendiri diperingati untuk menunjukkan penghargaan pada jasa para guru yang telah mendidik generasi penerus bangsa.

7 Seleb Indonesia Ini Pernah Jadi Guru Lho, Nomor 3 Sampai Rela Mengakhiri Karirnya Demi Mengajar!
Gambar Ilustrasi

Kalau kamu sudah bekerja pasti merasa kangen dengan para guru di sekolahmu, bukan?

Hal itu dirasa wajar, karena tanpa didikan dan jasa mereka, kamu tidak akan mungkin bisa menjadi seperti sekarang ini.

Asal tahu aja, deretan artis di bawah ini ternyata juga pernah menjadi guru lho.

Bahkan ada juga yang rela melepaskan kariernya di bidang hiburan agar bisa fokus mengajar anak yang kurang mampu.

Nah, siapa sajakah artis yang dimaksud?

Tribunstyle melansir dari berbagai sumber, inilah 6 artisnya.

1. Denny Cagur

Denny Cagur

Ternyata nama grup lawak Cagur itu merupakan singkatan dari Calon Guru.

Singkatan itu diberikan karena Denny, Narji, dan Bedu (sebelum Wendy) dulunya merupakan mahasiswa Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Negeri Jakarta (UNJ).

Dalam sebuah wawancara, Denny sendiri mengaku pernah menjadi guru privat sebelum sukes jadi komedian terkenal seperti sekarang ini.

2. Susan Bachtiar

Susan Bachtiar

Sejak tahun 1996, Susan Bachtiar sudah menjadi guru di berbagai jenjang pendidikan.
Mulai dari TK hingga dosen.

Model sekaligus bintang film ini mengaku pernah berkuliah di jurusan FKIP Bahasa Inggris di salah satu universitas swasta Jakarta.

Sebenarnya, perempuan berdarah Tionghoa ini mempunyai mimpi menjadi seorang dokter.

Namun, cita-citanya kandas setelah dirinya gagal mengikuti tes Sipenmaru (Sistem Penerimaan Mahasiswa Baru) atau sekarang lebih sering disebut UMPTN.

Jika disuruh memilih, Susan mengaku lebih suka pekerjaannya menjadi guru.

Terutama saat dia harus mengajar anak TK.

3. Dik Doank

Dik Doank

Jika kebanyakan seleb Indonesia menjadi artis setelah berkarier sebagai pengajar, Dik Doank ini malah melakukan yang sebaliknya.

Sekitar tahun 2006, Dik Doank memutuskan untuk pensiun dari dunia hiburan.

Dia ingin lebih fokus membangun sekolah alam Kandank Jurank Doank,

Sekolah ini berawal dari keprihatinan Dik terhadap keterpurukan nasib pendidikan sebagian anak-anak Indonesia.

4. Happy Salma

happysalma

Sama halnya dengan Susan, Happy Salma juga pernah menjadi guru TK.

Artis cantik ini sempat dibuat galau untuk memilih meneruskan dunia pendidikan atau berkarir di dunia hiburan.

Setelah pertimbangan yang cukup matang, Happy akhirnya memilih untuk menjadi artis hingga saat ini.

5. Anji

duniamanji

Anji merupakan lulusan jurusan Sastra Mandarin Universitas Indonesia.

Sebelum menjadi artis, Anji pernah berkarir sebagai guru les bahasa Mandarin.

Sampai saat ini, Anji masih bercita-cita untuk bisa menyanyikan lagu dalam bahasa Mandarin.

6. Desy Ratnasari

Desy Ratnasari

Sejak menjadi DPR RI periosde 2014-2019, Desy Ratnasari harus mengakhiri karirnya di dunia hiburan.

Akhirnya,pelantun lagu Tenda Biru ini menjadi seorang dosen jurusan psikologi di Universitas Atmajaya, Jakarta.

Alasan Desy menggeluti profesi dosen karena dirinya memiliki minat dan keinginan yang besar dalam berbagi ilmu dan menyukai dunia mengajar.

7. Lukman Sardi

Lukman Sardi

Akting Lukman Sunardi di beberapa filmnya memang tak tertandingi.

Terutama saat dia harus memerankan tokoh seorang guru.

Rupanya hal itu tidak terlepas dari pengalamannya menjadi guru playgroup.

Lukman Sardi pernah mengajar anak-anak di bawah umur dari tahun 2000 hingga 2004.

Sumber : tribunnews.com

Demikian berita terkini seputar guru yang dapat mendikbudku.com bagikan, semoga bermanfaat.

Senin, 16 Oktober 2017

Panduan Penilaian Kurikulum 2013 SMK Tahun 2017

Berikut ini adalah berkas Panduan Penilaian Kurikulum 2013 SMK Tahun 2017. Download file format .docx Microsoft Word dan PDF.

Panduan Penilaian Kurikulum 2013 SMK Tahun 2017
Panduan Penilaian Kurikulum 2013 SMK Tahun 2017

Panduan Penilaian Kurikulum 2013 SMK Tahun 2017

Berikut ini kutipan teks dari isi berkas Panduan Penilaian Hasil Belajar pada SMK Kurikulum 2013 Tahun 2017:

Peningkatan kualitas layanan pendidikan merupakan salah satu agenda prioritas pembangunan pendidikan nasional tahun 2015-2019 sebagaimana telah diamanatkan dalam Peraturan Presiden Nomor 2 Tahun 2015 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional 2015-2019. Di samping tersedianya kurikulum yang handal, salah satu aspek terpenting dalam upaya penjaminan kualitas layanan pendidikan adalah melalui penyediaan sistem penilaian yang komprehensif sesuai dendan syandar nasional pendidikan yang telah ditetapkan. Untuk itu Direktorat Jenderal Pendidikan dan Dasar dan Menengah bekerjasama dengan Badan Penelitian dan Pengembangan (Pusat Penilaian Pendidikan dan Pusat Kurikulum dan Perbukuan), telah menyusun Panduan Penilaian pada satuan pendidikan dasar dan menengah, di antaranya adalah Panduan Penilaian pada Sekolah Menengah Kejuruan (SMK).

Panduan ini disusun sebagai acuan praktis bagi para guru dalam merencanakan dan melaksanakan penilaian hasil belajar pserta didik secara sahih, obyektif, sistematis dan komprehensif meliputi penilaian sikap, pengetahuan, dan keterampilan. Panduan ini juga sekaligus merupakan pedoman praktis untuk mengolah dan membuat laporan hasil penilaian tersebut secara akuntabel dan informatif. Panduan ini akan sangat bermanfaat bagi para guru karena menyajikan informasi praktis tentang penggunaan beragam teknik penilaian, dilengkapi contoh dan langkah-langkah pelaksanaan penilaian, pengolahan nilai hingga cara mengisi rapor. Diharapkan dengan buku panduan ini para guru dapat melaksanakan tugasnya sehari-hari di kelas secara lebih profesional sehingga pada gilirannya mutu pendidikan kita dapat lebih terjaga dan terus meningkat.

Latar belakang
Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, sebagaimana diamanatkan dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (UU Sisdiknas). Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia (Permendikbud RI) Nomor 23 Tahun 2016 tentang Standar Penilaian Pendidikan belum memuat ketentuan-ketentuan yang memadai terkait dengan karakteristik Pendidikan Menengah Kejuruan (PMK) yang spesifik. Oleh karena itu, perlu dikembangkan standar penilaian PMK.

Pendidikan Menengah Kejuruan secara khusus diartikan sebagai pendidikan yang menyiapkan sumber daya manusia yang memiliki pengetahuan, keterampilan dan sikap sebagai tenaga terampil tingkat menengah untuk melaksanakan pekerjaan tertentu di masyarakat atau Dunia Usaha dan Dunia Industri (DUDI). Penyiapan sumber daya manusia melalui PMK akan semakin penting untuk menghadapi berbagai tantangan dan tuntutan pekerjaan, terutama sejak diberlakukannya Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA).

Sebelum diberlakukan MEA, pemerintah menetapkan Peraturan Presiden Nomor 8 Tahun 2012 tentang Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI) sebagai kerangka penjenjangan kualifikasi kompetensi yang dapat menyandingkan, menyetarakan, dan mengintegrasikan antara bidang pendidikan dan bidang pelatihan kerja serta pengalaman kerja dalam rangka pemberian pengakuan kompetensi kerja sesuai dengan struktur pekerjaan di berbagai sektor. KKNI selanjutnya menjadi rujukan dalam penyusunan Standar Nasional Pendidikan (SNP).

Salah satu jalur pendidikan formal yang menghasilkan tenaga kerja terampil adalah Sekolah Menengah Kejuruan/Madrasah Aliyah Kejuruan (SMK/MAK) yang lulusannya diakui pada jenjang 2 (dua) atau jenjang 3 (tiga) dalam KKNI. Instruksi Presiden Nomor 9 Tahun 2016 tentang Revitalisasi SMK dalam Rangka Peningkatan Kualitas dan Daya Saing Sumber Daya Manusia Indonesia, secara khusus memerintahkan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan untuk menyempurnakan dan menyelaraskan kurikulum SMK dengan kompetensi sesuai kebutuhan pengguna lulusan (link and match). Penyempurnaan dan penyelarasan tersebut bertujuan agar lulusan SMK/MAK memiliki kompetensi sesuai dengan kebutuhan Dunia Usaha dan Dunia Industri (DUDI). Penyelarasan kompetensi lulusan SMK/MAK dengan kebutuhan DUDI memerlukan informasi kompetensi yang akurat diperoleh melalui proses penilaian yang objektif dan terstandar.

Tujuan
Panduan Penilaian Proses dan Hasil Belajar Peserta Didik SMK ini disusun untuk membantu pendidik dan satuan pendidikan dalam:
  1. Meningkatkan pemahaman mengenai penilaian kinerja dan prinsip-prinsip penilaian;
  2. Merencanakan dan melaksanakan penilaian hasil belajar peserta didik yang berkualitas sesuai dengan kompetensi yang akan dicapai, meliputi sikap, pengetahuan, dan keterampilan;
  3. Mengolah hasil penilaian dan menindak lanjutinya;
  4. Menyusun laporan capaian kompetensi peserta didik secara objektif, akuntabel, dan informatif.

Ruang Lingkup
Ruang Lingkup Model Penilaian Proses dan Hasil Belajar Peserta Didik SMK ini meliputi penilaian kinerja, prinsip-prinsip penilaian, mekanisme penilaian, prosedur penilaian, teknik dan instrumen penilaian, pengolahan hasil penilaian dan tindak lanjutnya, serta pelaporan capaian kompetensi peserta didik dalam bentuk rapor.

Landasan Hukum
  1. Undang-undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.
  2. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan dan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 32 Tahun 2013 tentang Perubahan Atas Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan.
  3. Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 11 Tahun 2015 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
  4. Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 60 Tahun 2014 tentang Kurikulum 2013 Sekolah Menengah Kejuruan/Madrasah Aliyah Kejuruan.
  5. Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 103 Tahun 2014 tentang Pembelajaran pada Pendidikan Dasar dan Menengah.
  6. Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 53 Tahun 2015 tentang Penilaian Hasil Belajar oleh Pendidik dan Satuan Pendidikan pada Pendidikan Dasar dan Menengah.
  7. Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2016 tentang Standar Kompetensi Lulusan Pendidikan Dasar dan Menengah. 
  8. Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 21 Tahun 2016 tentang Standar Isi Pendidikan Dasar dan Menengah.
  9. Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 2016 tentang Standar Proses Pendidikan Dasar dan Menengah.
  10. Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 2016 tentang Standar Penilaian Pendidikan.
  11. Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 3 Tahun 2017 tentang Penilaian Hasil Belajar oleh Pemerintah dan Penilaian Hasil Belajar oleh Satuan Pendidikan.
  12. Keputusan Direktur Jenderal Pendidikan Menengah Nomor 7013/D/KP/2013 tentang Spektrum Keahlian Pendidikan Menengah Kejuruan.
  13. Keputusan Direktur Jenderal Pendidikan Menengah Nomor 4678/D/KEP/MK/2016 tentang Spektrum Keahlian Pendidikan Menengah Kejuruan. 

Pengertian
Penilaian pendidikan merupakan proses pengumpulan dan pengolahan informasi untuk mengukur pencapaian hasil belajar peserta didik mencakup : penilaian kinerja, penilaian diri, penilaian berbasis portofolio, penilaian harian, penilaian tengah semester, penilaian akhir semester, ujian tingkat kompetensi, ujian mutu tingkat kompetensi, ujian nasional, ujian sekolah berstandar nasional, dan ujian sekolah/madrasah. Adapun beberapa pengertian pada penilaian Pendidikan Menengah Kejuruan, secara umum dapat diuraikan sebagai berikut :
  1. Standar Penilaian Pendidikan adalah kriteria minimum mengenai lingkup, tujuan, manfaat, prinsip, instrumen, bentuk, mekanisme, prosedur, dan pelaporan penilaian hasil belajar peserta didik pada PMK.
  2. Penilaian adalah proses pengumpulan dan pengolahan informasi untuk mengukur capaian hasil belajar peserta didik.
  3. Pembelajaran adalah proses interaksi antar peserta didik, antara peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar.
  4. Penilaian pembelajaran adalah kegiatan untuk mengetahui proses dan kemajuan pembelajaran secara berkesinambungan.
  5. Penilaian kinerja merupakan penilaian yang dilakukan secara komprehensif untuk menilai mulai dari masukan (input), proses, dan keluaran (output) pembelajaran.
  6. Penilaian diri merupakan penilaian yang dilakukan sendiri oleh peserta didik secara reflektif untuk membandingkan posisi relatifnya dengan kriteria yang telah ditetapakan.
  7. Penilaian berbasis portofolio merupakan penilaian yang dilaksanakan untuk menilai keseluruhan entitas proses belajar peserta didik termasuk penugasan perseorangan dan/atau kelompok di dalam dan/atau di luar kelas khususnya pada sikap/perilaku dan keterampilan.
  8. Penilaian Harian (PH) merupakan kegiatan yang dilakukan secara periodik untuk menilai kompetensi peserta didik setelah menyelesaikan satu Kompetensi Dasar (KD) atau lebih.
  9. Ujian Tengah Semester (UTS) merupakan kegiatan yang dilakukan oleh pendidik untuk mengukur pencapaian kompetensi peserta didik setelah melaksanakan 8 – 9 minggu kegiatan pembelajaran. Cakupan penilaian tengah semester mepiluti seluruh indikator yang merepresentasikan seluruh KD pada periode tersebut. 
  10. Ujian Akhir Semester (UAS) merupakan kegiatan yang dilakukan oleh pendidik untuk mengukur pencapaian kompetensi peserta didik diakhir semester. Cakupan penilaian meliputi seluruh indikator yang merepresentasikan semua KD pada semester tersebut.
  11. Ujian Tingkat Kompetensi (UTK) merupakan kegiatan pengukuran yang dilakukan oleh satuan pendidikan untuk mengetahui pencapaian tingkat kompetensi. Cakupan UTK meliputi sejumlah Kompetensi Dasar yang merepresentasikan Kompetensi Inti pada tingkat kompetensi tersebut.
  12. Ujian Mutu Tingkat Kompetensi (UMTK) merupakan kegiatan pengukuran yang dilakukan oleh pemerintah untuk mengetahui pencapaian tingkat kompetensi. Cakupan UMTK meliputi sejumlah Kompetensi Dasar yang merepresentasikan Kompetensi Inti pada tingkat kompetensi tersebut.
  13. Ujian Sekolah Berstandar Nasional (USBN) merupakan kegiatan pengukuran capaian kompetensi peserta didik yang dilakukan oleh satuan pendidikan untuk mata pelajaran tertentu dengan mengacu pada Standar Kompetensi Lulusan untuk untuk memperoleh pengakuan atas prestasi belajar.
  14. Ujian Sekolah (US) merupakan kegiatan pengukuran dan penilaian kompetensi peserta didik terhadap standar kompetensi lulusan untuk mata pelajaran yang tidak diujikan dalam USBN dilakukan oleh satuan pendidikan.
  15. Ujian Nasional (UN) merupakan kegiatan pengukuran capaian kompetensi lulusan pada mata pelajaran tertentu secara nasional dengan mengacu pada Standar Nasional Pendidikan.
  16. Ujian Unit Kompetensi yang selanjutnya disebut UUK adalah penilaian terhadap pencapaian satu atau beberapa unit kompetensi yang dapat membentuk 1 (satu) Skema Sertifikasi Profesi yang dilaksanakan setiap tahun oleh satuan pendidikan terakreditasi.
  17. Unit Kompetensi terdiri atas beberapa Kompetensi Dasar (KD) untuk mencapai kemampuan melaksanakan satu bidang pekerjaan spesifik.
  18. Skema Sertifikasi Profesi terdiri atas beberapa Unit Kompetensi merupakan paket kompetensi sebagai persyaratan spesifik yang berkaitan dengan kategori profesi tertentu.
  19. Ijazah adalah pengakuan terhadap prestasi dan penyelesaian belajar peserta didik setelah lulus ujian yang diselenggarakan oleh satuan pendidikan terakreditasi.
  20. Paspor Keterampilan (Skill Passport) adalah dokumen rekaman pengakuan atas kompetensi yang telah dicapai oleh peserta didik.
  21. Ujian Kompetensi Keahlian yang selanjutnya disebut UKK adalah penilaian terhadap pencapaian kualifikasi jenjang 2 (dua) atau 3 (tiga) pada KKNI yang dilaksanakan di akhir masa studi oleh Lembaga Sertifikasi Profesi Pihak Pertama (LSP-P1) atau satuan pendidikan terakreditasi bersama DUDI dengan memperhatikan paspor keterampilan.
  22. Kriteria Ketuntasan Minimal yang selanjutnya disebut KKM adalah kriteria ketuntasan belajar untuk mata pelajaran muatan umum ditentukan oleh satuan pendidikan dan mata pelajaran muatan kejuruan ditentukan oleh satuan pendidikan bersama dengan DUDI dan/atau lembaga terkait.
  23. Keterampilan teknis (technical skills) adalah kemampuan melakukan pekerjaan sesuai dengan mekanisme, prosedur, cara, serta penerapan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) sesuai bidang kerjanya.
  24. Keterampilan kebekerjaan (employability skills) adalah kemampuan individu untuk menyesuaikan diri dengan iklim kerja di DUDI.
  25. Laboratorium atau sejenisnya adalah tempat kegiatan pembelajaran melalui eksperimen yang bertujuan untuk meningkatkan pemahaman terhadap suatu teori.
  26. Bengkel kerja atau sejenisnya adalah tempat kegiatan pembelajaran praktik yang bertujuan untuk menerapkan teori pada proses kerja untuk menghasilkan produk.
  27. Tempat Uji Kompetensi yang selanjutnya disebut TUK adalah tempat kerja atau tempat praktik satuan pendidikan yang memenuhi persyaratan untuk pelaksanaan uji kompetensi oleh satuan pendidikan terakreditasi dan/atau LSP.
  28. Teaching factory adalah bentuk pembelajaran berbasis produksi/ layanan jasa yang mengacu pada standar dan prosedur kerja baku yang dilaksanakan di satuan pendidikan dalam suasana dan budaya industri.
  29. Technopark adalah kawasan yang menampung fasilitas pendidikan, penelitian, dan pengembangan serta inkubasi yang mempersiapkan suatu temuan (invensi) menjadi produk.
  30. Praktik Kerja Lapangan yang selanjutnya disebut PKL adalah kegiatan pembelajaran yang dilakukan di DUDI dan/atau lapangan kerja lain untuk penerapan, pemantapan, dan peningkatan kompetensi.
  31. Pendidikan Sistem Ganda (Dual System Education) yang selanjutnya disebut PSG adalah bentuk penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan kejuruan secara sistematik dan terpadu antara program pendidikan di sekolah dan program pelatihan di DUDI.
  32. Rekognisi Pembelajaran Lampau atau Recognition of Prior Learning yang selanjutnya disebut RPL adalah pengakuan atas capaian pembelajaran peserta didik yang diperoleh dari pendidikan formal, nonformal atau informal, dan/atau pengalaman kerja ke dalam pendidikan formal. 

Ruang Lingkup
Secara umum ruang lingkup dalam penilaian pendidikan pada PMK dapat diuraikan sebagai berikut :
  1. Ruang lingkup standar penilaian pada PMK terdiri atas tujuan, manfaat, prinsip, instrumen, bentuk, mekanisme, prosedur, dan pelaporan.
  2. Penilaian pembelajaran bertujuan untuk memantau proses dan kemajuan pembelajaran secara berkesinambungan.
  3. Penilaian hasil belajar bertujuan untuk mengetahui pencapaian kompetensi peserta didik yang dibuktikan dengan rapor, paspor keterampilan dan/atau sertifikat kompetensi.

Manfaat Penilaian
Manfaat penilaian pendidikan secara umum maupun secara khusus pada PMK dapat diuraikan sebagai berikut :
  1. bagi peserta didik dan orang tua/wali sebagai pengakuan dan umpan balik tentang perkembangan dan tingkat pencapaian kompetensi;
  2. bagi pendidik sebagai acuan untuk perbaikan pembelajaran peserta didik secara berkesinambungan berdasarkan standar penilaian;
  3. bagi satuan pendidikan sebagai acuan untuk menilai pencapaian kompetensi peserta didik pada semua mata pelajaran dalam bentuk profil kompetensi;
  4. bagi pemerintah daerah sebagai acuan untuk menilai pencapaian kinerja dalam bentuk profil satuan pendidikan sebagai bagian dari akuntabilitas penyelenggaraan pendidikan;
  5. bagi pemerintah sebagai acuan untuk menilai pencapaian kompetensi lulusan secara nasional dalam bentuk profil satuan pendidikan dan daerah sebagai bagian dari akuntabilitas penyelenggaraan pendidikan;
  6. bagi DUDI sebagai acuan untuk menilai pencapaian kompetensi dan memberikan sertifikat kompetensi setelah peserta didik melakukan PKL atau mengikuti program pendidikan yang diselenggarakan oleh DUDI bersama satuan pendidikan;
  7. bagi satuan pendidikan yang terakreditasi dan LSP adalah sebagai acuan untuk memberikan pengakuan kompetensi dan pemberian sertifikat kompetensi kepada peserta didik.

Prinsip Penilaian
Berdasarkan Permendikbud Nomor 23 Tahun 2016 tentang Standar Penilaian Pendidikan, dalam setiap aktivitas penilaian pendidikan tidak dapat dilepaskan dari prinsip-prinsip penilaian yaitu :
  1. sahih, berarti penilaian didasarkan pada data yang mencerminkan kemampuan yang diukur;
  2. obyektif, berarti penilaian didasarkan pada prosedur dan kriteria yang jelas, tidak dipengaruhi subjektivitas penilai;
  3. adil, berarti penilaian tidak menguntungkan atau merugikan peserta didik karena berkebutuhan khusus serta perbedaan latar belakang agama, suku, budaya, adat istiadat, status sosial ekonomi, dan gender;
  4. terpadu, berarti penilaian merupakan salah satu komponen yang tak terpisahkan dari kegiatan pembelajaran;
  5. terbuka, berarti prosedur penilaian, kriteria penilaian, dan dasar pengambilan keputusan dapat diketahui oleh pihak yang berkepentingan;
  6. menyeluruh dan berkesinambungan, berarti penilaian mencakup semua aspek kompetensi dengan menggunakan berbagai teknik penilaian yang sesuai, untuk memantau dan menilai perkembangan kemampuan peserta didik;
  7. sistematis, berarti penilaian dilakukan secara berencana dan bertahap dengan mengikuti langkah-langkah baku;
  8. beracuan kriteria, berarti penilaian didasarkan pada ukuran pencapaian kompetensi yang ditetapkan;
  9. akuntabel, berarti penilaian dapat dipertanggungjawabkan, baik dari segi mekanisme, prosedur, teknik, maupun hasilnya; dan
  10. andal, berarti dapat dipercaya dan memberikan hasil yang konsisten pada ujian atau pengukuran yang berulang.

Jenis Ujian
Jenis ujian pada PMK terdiri atas ulangan, ujian sekolah/madrasah, ujian nasional, UUK, dan UKK. Secara detil, jenis-jenis ujian dapat dijelaskan sebagai berikut :
  1. Ulangan adalah proses yang dilakukan untuk mengukur pencapaian kompetensi peserta didik secara berkelanjutan dalam proses pembelajaran untuk memantau kemajuan dan perbaikan hasil belajar peserta didik untuk setiap Kompetensi Dasar (KD). 
  2. Ujian sekolah/madrasah adalah kegiatan yang dilakukan oleh satuan pendidikan untuk mengukur pencapaian kompetensi peserta didik sebagai pengakuan prestasi belajar dan/atau penyelesaian dari suatu satuan pendidikan.
  3. Ujian nasional adalah kegiatan yang dilakukan oleh pemerintah untuk mengukur pencapaian kompetensi peserta didik.
  4. Ujian Unit Kompetensi adalah penilaian terhadap pencapaian 1 (satu) atau beberapa unit kompetensi yang dapat membentuk satu Skema Sertifikasi Profesi dilaksanakan oleh satuan pendidikan terakreditasi.
  5. Skema Sertifikasi Profesi terdiri atas beberapa Unit Kompetensi merupakan paket kompetensi sebagai persyaratan spesifik yang berkaitan dengan kategori profesi tertentu dilakukan oleh satuan pendidikan terakreditasi bersama DUDI atau LSP-P1.
  6. Ujian Kompetensi Keahlian adalah penilaian terhadap pencapaian kualifikasi jenjang 2 (dua) atau 3 (tiga) pada KKNI dilaksanakan di akhir masa studi yang dilaksanakan oleh LSP atau satuan pendidikan terakreditasi bersama DUDI dengan memperhatikan paspor keterampilan.

    Download Panduan Penilaian Kurikulum 2013 SMK Tahun 2017

    Selengkapnya mengenai susunan dan isi berkas Panduan Penilaian Hasil Belajar pada SMK Kurikulum 2013 Edisi Revisi Tahun 2017 ini silahkan lihat dan unduh pada link di bawah ini:



    Download File:

    Panduan Penilaian Hasil Belajar pada SMK Kurikulum 2013 Edisi Revisi Tahun 2017.pdf
    Panduan Penilaian Hasil Belajar pada SMK Kurikulum 2013 Edisi Revisi Tahun 2017.docx

    Sumber: http://psmk.kemdikbud.go.id

    Demikian yang bisa kami sampaikan mengenai keterangan berkas dan share file Panduan Penilaian Hasil Belajar pada SMK Kurikulum 2013 Edisi Revisi Tahun 2017. Semoga bisa bermanfaat.

    Lihat juga beberapa informasi dan berkas lainnya terkait dengan Penilaian di bawah ini.


    Selasa, 28 November 2017

    MIRIS ! PENELITIAN PELAJAR SMA INI 11 KALI DITOLAK DI INDONESIA, SEKARANG MALAH DIUNDANG GOOGLE

    Assalamualaikum Warrahmatullahi Wabbarakatuh

    Salam Sejahtera. 

    Mendikbudku.com - Berita terkini seputar perkembangan dunia pendidikan di tanah air kembali kami bagikan secara aktual kepada seluruh rekan pengunjung yang berbahagia dimanapun berada.

    Cristopher Farrel Millenio Kusuma, pelajar SMAN 8 Yogyakarta, mendapat undangan dari perusahaan kelas dunia Google.

    Miris! Penelitian Pelajar SMA Ini 11 Kali Ditolak di Indonesia, Sekarang Malah Diundang Google
    Gambar Ilustrasi

    Farrel berhasil menciptakan penelitiannya tentang  "Data Compression using EG and Neural Network Algorithm for Lossless Data", yang membuat dirinya diundang oleh Google untuk mempresentasikan gagasannya di Mountain View, California.

    Penelitian tersebut metodenya menggunakan saraf tiruan untuk mencari pola pada data.

    Farrel merupakan satu-satunya siswa SMA di Indonesia yang proposal karyanya lolos dan diundang oleh Google.

    Sebelumnya, sejak tahun 2016 Farrel telah mengajukan penelitiannya dengan judul yang sama sebanyak 11 kali di berbagai ajang kompetisi di Indonesia.

    Namun judul penelitian tersebut ditolak.

    Farrel kemudian iseng-iseng untuk mengajukan judul yang ditolak di Indonesia tersebut ke Google.

    Ia tak menyangka dirinya mendapat undangan melalui email dari Google untuk mempresentasikan karyanya.

    Menurutnya, menyerah adalah kesalahan terbesar dalam hidup.

    "Pantang menyerah adalah anugerah terindah dalan hidup," kata dia.

    Ia pun mengaku mendapatkan pengalaman luar biasa selama di markas Google di California.

    Di luar negeri, tuturnya, orang saling bertukar ide dan mereka tidak takut jika ide mereka diambil.

    "Untuk apa memiliki ilmu yang banyak tapi saat kita mati tidak berguna untuk dunia ini. Lebih baik ilmunya diberikan kepada orang lain," tuturnya menirukan pesan pada saat diskusi di California.

    "Maka saya ingin berbagi ilmu yang saya dapatkan akan saya bagikan ke orang lain," Imbuhnya.

    Sumber : tribunnews.com

    Demikian berita terkini seputar pendidikan yang dapat mendikbudku.com bagikan, semoga bermanfaat.

    Selasa, 24 Oktober 2017

    ANGGARAN SEBESAR RP 416 TRILIUN, NASIB PENDIDIKAN DI INDONESIA JAUH DARI HARAPAN

    SUARAPGRI - Hingga 72 tahun Indonesia merdeka, nasib dunia pendidikan nasional masih jauh dari harapan.
    Padahal, anggaran yang digunakan untuk membangun dunia pendidikan mencapai Rp 416,1 triliun atau setara 20 persen dari APBN Tahun 2017.


    Jumlah itu terbesar dibanding sektor pembangunan yang lain. Namun, dengan anggaran sebesar itu, dunia pendidikan Indonesia tidak kunjung membaik.
    Kesimpulan itu didapat dari round table discussion dengan tema Mencerdaskan Kehidupan Bangsa: Pendidikan Nasional Menurut UUD NRI Tahun 1945 di gedung Nusantara IV, Kompleks MPR, DPR, dan DPD RI, Selasa (24/10).

    Praktisi pendidikan Arief Rahman memberi catatan terhadap perilaku para guru dan dosen.
    Menurutnya, banyak guru dan dosen di Indonesia yang sering mengeluh, tidak disiplin, dan tidak memiliki persiapan sebelum mengajar.

    "Ada guru yang sering disibukkan dengan persoalan di luar pelajaran dan lupa terhadap tugasnya untuk mengajar,” ujar Arief.
    Sikap lain dari para guru  dan dosen yang kurang baik adalah tidak bersemangat saat bertemu dengan siswa. Padahal, semestinya guru menunjukkan semangat agar para siswa juga bersemangat dalam menerima pelajaran.

    Pendapat lain dikemukakan oleh Ketua Umum PGRI Unifah Rosyidi.
    Menurut Unifah Rosyidi, tidak semua anggaran pendidikan terdistribusi secara baik.

    Bahkan, anggaran dari pusat yang ditransfer ke daerah untuk diteruskan ke guru kerap dipergunakan terlebih dahulu untuk pembangunan daerah.
    Akibatnya, anggaran tersebut terlambat sampai di tangan para guru.

    "Ini persoalan sangat serius yang bisa menimbulkan kegelisahan, tetapi terjadi berulang-ulang,” tutur Unifah.
    Di sisi lain, Bomer Pasaribu mengatakan, pendidikan nasional sama sekali tidak terjangkau oleh sila-sila Pancasila.

    Sementara di Eropa malah melaksanakan prinsip prinsip Pancasila.
    "Di Indonesia kita menemukan teori tentang Pancasia. Namun, di Eropa, praktik Pancasila itu malah sudah dilaksanakan,” kata Bomer. (sumber: jpnn.com)

    Sabtu, 07 Oktober 2017

    KEMENDIKBUD LUNCURKAN PROGRAM KEAHLIAN GANDA BAGI GURU PRODUKTIF

    SUARAPGRI - Program Keahlian Ganda untuk Guru Produktif merupakan salah satu program utama Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) dalam memberdayakan Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan di Indonesia.

    Pada tahun 2016, Indonesia masih kekurangan guru produktif Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) sejumlah 91.86,1 dengan rincian 41.861 di SMK Negeri dan 50.000 di SMK Swasta, seperti siaran pers yang diterima Kompas.com, belum lama ini.


    Untuk memenuhi kekurangan tersebut, pemerintah menambah guru produktif SMK melalui Program Keahlian Ganda, outsourching guru dari dunia usaha (DU) maupun dunia industri (DI), Program Mahasiswa Magang, dan rekrutmen guru baru pegawai negeri sipil (PNS).

    Perubahan kebutuhan tenaga guru produktif di SMK, mau tidak mau harus menyesuaikan kebutuhan dunia usaha dan industri. Caranya, dengan menyelenggarakan program keahlian agar penyelenggaran pendidikan di SMK menjadi efektif dan efisien.

    Perubahan tugas mengajar mata pelajaran/program studi lama menjadi baru yang akan diampu guru/peserta dalam program keahlian ganda membutuhkan pengetahuan, pengalaman lapangan, dan ketrampilan produktif baru.

    Pengalaman praktik mengajar yang realistis pada situasi sekolah sesungguhnya, akan menjadikan metode mengajar sesuai dengan karakteristik program studi yang diampu guru.

    Tujuan pelaksanaan Program Keahlian Ganda adalah untuk memberikan penguatan atau pendalaman materi bagi peserta pendidikan dan pelatihan (diklat), serta melaksanakan sertifikasi kompetensi keahlian sesuai paket keahlian yang diikuti.

    Dengan demikian, diharapkan adanya peningkatan kompetensi keahlian produktif, khususnya pada satu kelompok kompetensi yang di diklatkan dan peserta memiliki kompetensi keahlian yang tersertifikasi oleh Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP).

    Sejumlah 15 ribu guru akan masuk daftar penambahan guru produktif SMK melalui Program Sertifikasi Keahlian dan Sertifikasi Pendidik bagi guru SMK/SMA (Keahlian Ganda) dalam rancangan jangka pendek.

    Sedangkan, untuk rancangan jangka panjang pada 2017-2019 adalah melanjutkan program Keahlian Ganda dan Rekruitmen Guru Baru PNS SMK Negeri dan Swasta. (sumber: Tribunnews.com)

    Jumat, 05 Mei 2017

    Bahan Materi Pelatihan Bimtek Kurikulum 2013 Sekolah Dasar (SD) Tahun 2017

    Salam dunia pendidikan. Kali ini kami akan membagikan sebuah Bahan Materi Pelatihan Bimtek Kurikulum 2013 Sekolah Dasar (SD) Tahun 2017 untuk anda, yang mungkin bisa membantu anda untuk memudahkan pekerjaan, dan semoga bermanfaat.

    Berikut ini kami bagikan Bahan Materi Pelatihan Bimtek Kurikulum 2013 Sekolah Dasar (SD) Tahun 2017, yang mudah mudahan dapat berguna dan bermanfaat bagi bapak/ibu guru semua.

    Dalam penunjang berjalannya progam pemerintah untuk dunia pendidikan dengan kurikulum baru yaitu kurikulum 2013 tentunya pemerintah memberikan pelatihan - pelatihan dalam kesuksesan progam pendidikan kurikulum 2013 dan pemerintah mengharapkan para guru ikut serta mensukseskan progam kurikulum bagi dunia pendidikan di Indonesia.

    Untuk lebih lengkapnya mengenai Bahan Materi Pelatihan Bimtek Kurikulum 2013 Sekolah Dasar (SD) Tahun 2017 silahkan dapat langsung diunduh dan dimanfaatkan pada link di bawah ini.

    Dalam pelatihan kurikulum 2013 tentunya banyak sekali bahan - bahan yang harus dipelajari oleh semua guru yang mengikuti pelatihan dan kami akan memberikan bahan - bahan pelatihan kurikulum 2013 buat para guru semuanya yang ingin memiliki file Materi Pelatihan Bimtek Kurikulum 2013 Sekolah SD 2017 langsung saja download pada tautan link dibawah ini :



    1. Bahan Materi Pelatihan Bimtek Kurikulum 2013 Sekolah SD 2017 ( Materi Umum )

    2. Bahan Materi Pelatihan Bimtek Kurikulum 2013 Sekolah SD 2017 ( Materi Pokok )

    3. Bahan Materi Pelatihan Bimtek Kurikulum 2013 Sekolah SD 2017 ( Materi Suplemen )

    Sumber : atirta13.com

    Baca juga : Buku Panduan Penilaian Kurikulum 2013 Hasil Revisi Sekolah Dasar (SD) 2017

    Silahkan dapat langsung diunduh dan jangan lupa untuk dibagikan lagi.
    Terimakasih sudah berkunjung di bloog admin semoga semua yang kami sediakan dibloog ini dapat berguna dan bermanfaat untuk kita semua sekian dan wassalam wr wb.

    Jumat, 16 Desember 2016

    Download Kumpulan Ebook Pembelajaran Excel Gratis

    Salam dunia pendidikan. Kali ini kami akan membagikan sebuah Kumpulan Ebook Pembelajaran Excel Gratis untuk anda, yang mungkin bisa membantu anda untuk memudahkan pekerjaan, dan semoga bermanfaat.

    Microsoft Office Excel atau yang biasa disebut dengan Excel merupakan sebuah program aplikasi pengolahan angka dalam bentuk tabel yang sering digunakan di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Pentingnya penguasaan excel membuat semua orang dituntut untuk dapat menguasai dan menggunakan Program Excel dengan baik. 

    Fungsi excel yang utama adalah sebagai aplikasi pengolahan angka. Excel dapat memudahkan penggunanya dalam pengolahan angka - angka dengan menggunakan perhitungan matematis. Excel sering digunakan dalam berbagai bidang, termasuk bidang pendidikan. Bagi anda yang berkecimbung di dunia pendidikan tentu  dituntut untuk dapat menguasai excel supaya dapat membantu pengolahan angka dan data dalam berbagai keperluan.

    Pembelajaran excel  sebenarnya dapat dilakukan secara mandiri, tanpa harus  menyewa dan membayar jasa orang lain untuk mengajarkan ataupun mengikuti kursus berbayar. Yang penting ada kemauan, pasti ada jalan. Salah satu pembelajaran excel secara mandiri adalah dengan memanfaatkan tutorial dan ebook pembelajaran excel yang banyak tersebar gratis di internet. 

    Berikut ini adalah Kumpulan ebooks pembelajaran microsoft office excel gratis yang dapat anda gunakan sebagai panduan dalam pembelajran dalam penggunaan excel secara mandiri . 




    Kumpulan Ebook Gratis diatas merupakan modul pembelajaran excel yang dibuat dan dibagikan oleh Excel User Group Indonesia. Tentunya setiap ebook dibuat dengan tujuan untuk pembelajaran excel secara mandiri. Jika anda bekerja dengan menggunakan versi excel yang berbada dengan ebooks diatas, jangan khawatir karena pada dasarnya semua versi excel itu sama yang membedakan hanyalah tampilannya saja. 

    Sekian postingan saya kali ini semoga dengan adanya kumpulan Ebook pembelajaran excel itu anda dapat meningkatkan kemampuan dalam penguasaan program pengolahan angka (Microcoft Excel) Semoga dapat bermanfaat, silahkan diunduh bagi yang membutuhkan dan jangan lupa dibagikan sekian dan terimakasih wassalam wr wb.

    Rabu, 09 Agustus 2017

    Panduan Pembelajaran Matematika dan PJOK untuk SD MI Kurikulum 2013

    Berikut ini adalah berkas buku Panduan Pembelajaran Matematika dan PJOK untuk SD/MI Kurikulum 2013. Disusun/diterbitkan oleh Direktorat Pembinaan Sekolah Dasar Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah bersama Pusat Kurikulum Balitbang Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Download file PDF.

    Panduan Pembelajaran Matematika dan PJOK untuk SD/MI Kurikulum 2013
    Panduan Pembelajaran Matematika dan PJOK untuk SD/MI Kurikulum 2013

    Panduan Pembelajaran Matematika dan PJOK untuk SD/MI Kurikulum 2013

    Berikut ini kutipan teks dari isi berkas buku Panduan Pembelajaran Matematika dan PJOK untuk SD/MI Kurikulum 2013:

    Salah satu keberhasilan pendidikan ditentukan oleh kurikulum pendidikan yang disusun berdasarkan kebutuhan zaman. Pada era abad 21 ini dibutuhkan kurikulum yang dapat mendorong pembelajaran yang menghasilkan siswa yang dapat memiliki kemampuan untuk mempertahankan hidupnya serta mampu menghadapi tantangan era globalisasi tanpa kehilangan nilai-nilai kepribadian dan budaya bangsa.Kurikulum 2013 menjawab kebutuhan zaman tersebut.

    Penerapan Kurikulum 2013 pada proses pembelajaran di Sekolah Dasar menggunakan pendekatan tematik terpadu. Pada perkembangannya, untuk kelas tinggi (IV, V, dan VI) mata pelajaran Matematika dan Pendidikan Jasmani, Olahraga dan Kesehatan (PJOK) dipisahkan dari Buku Tematik Terpadu. Pemisahan tersebut dikarenakan perubahan muatan pelajaran matematika serasa dangkal sehingga siswa tidak mendapatkan konsep matematika secara mendalam dan PJOK memiliki karakteristik objek kajian dan metode yang berbeda dengan mata pelajaran lain. Objek kajian PJOK berupa gerak, pembelajaran PJOK banyak dilakukan melalui observasi, mencontoh/menirukan, melatihkan secara berulang.

    Berdasarkan beberapa alasan tersebut, maka Direktorat Pembinaan Sekolah Dasar Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah bersama Pusat Kurikulum Balitbang Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menyusun Panduan Pelaksanaan Pembelajaran Matematika dan PJOK.

    Panduan ini sebagai acuan bagi guru dalam melaksanakan pembelajaran Matematika dan PJOK serta dapat membantu dalam memecahkan beberapa permasalahan dalam pembelajaran.

    Latar Belakang
    Keberhasilan pendidikan salah satunya ditentukan oleh kurikulum pendidikan yang disusun berdasarkan kebutuhan zaman. Era abad ke-21 merupakan era globalisasi. Pada era ini dibutuhkan kurikulum yang dapat mendorong pembelajaran yang menghasilkan siswa yang tangguh. Artinya, siswa yang dapat memiliki kemampuan untuk mempertahankan hidupnya (human survival). Selain itu, pendidikan juga harus menyiapkan sumberdaya manusia yang mampu menghadapi tantangan era globalisasi tanpa kehilangan nilai-nilai kepribadian dan budaya bangsa.

    Kurikulum 2013 disusun untuk menjawab kebutuhan zaman. Kurikulum 2013 dikembangkan dalam bentuk Kompetensi Inti dan Kompetensi Dasar. Kompetensi Inti terdiri atas empat dimensi yang terkait satu sama lain. Keempat dimensi tersebut adalah: sikap spiritual (KI 1), sikap sosial (KI 2), pengetahuan (KI 3), dan keterampilan (KI 4). Pengembangan Kompetensi Dasar untuk KI 1 dan KI 2 hanya terdapat pada mata pelajaran Pendidikan Agama dan Budi Pekerti serta PPKn. 


    Kurikulum yang mengedepankan pencapaian kompetensi tersebut membawa konsekuensi bahwa pembelajaran harus berpusat pada siswa. Siswa didorong untuk terlibat aktif dan komprehensif dalam pembelajaran. Keterlibatan siswa secara aktif dan komprehensif tersebut akan memberikan pemahaman mendalam dan peluang besar pada pengalaman belajar yang berada di long term memory.

    Penerapan Kurikulum 2013 pada proses pembelajaran di sekolah dasar menggunakan pendekatan tematik terpadu. Salah satu pendukung proses pembelajaran adalah buku Tematik Terpadu yang diterbitkan oleh Pemerintah. Mata pelajaran yang dapat dipadukan adalah PPKn, Bahasa Indonesia, Matematika, Ilmu Pengetahuan Alam (IPA), Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS), Seni Budaya dan Prakarya (SBdP), dan Pendidikan Jasmani, Olahraga dan Kesehatan (PJOK).

    Pada perkembangannya, untuk kelas tinggi (IV, V, dan VI) mata pelajaran Matematika dan PJOK dipisahkan dari Buku Tematik Terpadu. Keputusan pemisahan mata pelajaran tersebut ada berbagai alas an, diantaranya adalah materi/pembahasan muatan Matematika pada buku tersebut terasa dangkal. Oleh karena itu, siswa tidak mendapatkan pemahaman konsep matematika secara mendalam. Dengan demikian, perlu digunakan buku Matematika secara terpisah. Alasan tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut.

    a. Matematika memiliki karakteristik objek kajian dan metode yang berbeda dengan mata pelajaran lain. Objek kajian matematika bersifat abstrak, metode untuk melakukan kajian terhadap objek matematika bersifat deduktif, tentunya dengan tidak mengabaikan pengembangan kecakapan 4 C (Critical, Creative, Colaboratif, Dan Communication).

    b. Kebermaknaan pembelajaran matematika di SD/MI salah satunya dapat ditingkatkan melalui pembelajaran matematika dalam konteks dunia nyata siswa. Pembelajaran dengan mengambil konteks kehidupan nyata tersebut dapat dicapai melalui pembelajaran tematik terpadu.

    c. Kebermaknaan pembelajaran merupakan energi bagi peningkatan motivasi belajar siswa, ketika motivasi sudah dimiliki pembelajaran tidak harus selalu dikaitkan dengan dunia nyata/tema, karena pembelajaran matematika dengan tema memiliki keterbatasan dalam mengakomodir struktur dan konten matematika secara utuh. Oleh karena itu, ketika konteks sudah diperoleh, pembelajaran Matematika dapat dilakukan dengan pemahaman konsep matematika secara utuh.

    Demikian juga alasan yang serupa diambil untuk menjelaskan mengapa mata pelajaran PJOK harus diajarkan dengan buku terpisah. Alasan tersebut adalah sebagai berikut:

    a. PJOK memiliki karakteristik objek kajian dan metode yang berbeda dengan mata pelajaran lain. Objek kajian PJOK berupa gerak, pembelajaran PJOK banyak dilakukan melalui mengobservasi dan mencontoh, kemudian melatihkannya secara berulang, tentunya dengan tidak mengabaikan pengembangan kecakapan 4C (Critical, Creative, Colaboratif, Dan Communication).

    b. Kebermaknaan pembelajaran PJOK di SD/MI salah satunya dapat ditingkatkan melalui pembelajaran PJOK dalam konteks dunia nyata siswa, hal ini salah satunya dapat dilakukan melalui pembelajaran tematik.

    c. Kebermaknaan pembelajaran merupakan energi bagi peningkatan motivasi belajar siswa. Namun ketika dikaitkan dengan tema, terdapat beberapa materi pembelajaran PJOK yang memiliki keterbatasan dalam mengakomodir struktur dan konten PJOK secara utuh. Oleh karena itu, tidak semua materi yang berkaitan dengan KD dapat diakomodir secara cukup oleh buku tematik.

    d. Pembelajaran PJOK banyak dilakukan dengan gerakan anggota tubuh yang harus dimulai dengan pemanasan terlebih dahulu, sehingga membutuhkan waktu yang relatif lama.

    e. Banyak gerakan-gerakan dalam pembelajaran PJOK yang tidak dipahami sepenuhnya oleh guru kelas, sehingga dapat mengakibatkan cedera bagi siswa.

    f. Pada umumnya pembelajaran PJOK mengakibatkan siswa berkeringat, sehingga mengganggu proses pembelajaran lain bila terintegrasi.

    g. Untuk memberdayakan keberadaan guru mata pelajaran PJOK yang tersedia hampir di semua SD.

    Berdasarkan alasan-alasan tersebut maka Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan sudah menetapkan buku teks pelajaran yang layak digunakan dalam proses pembelajaran untuk mata pelajaran Matematika dan PJOK yang disajikan secara terpisah dari Buku Tematik Terpadu. Oleh karena itu, diperlukan panduan pelaksanaan pembelajaran matematika dan PJOK untuk SD/MI di kelas IV, V dan VI.

    Panduan ini secara keseluruhan memuat penjelasan tentang latar belakang, tujuan, dan sasaran diterbitkannya panduan ini; karakteristik mata pelajaran Matematika dan PJOK; perancangan dan pembelajaran Matematika dan PJOK.

    Tujuan
    Panduan Pembelajaran Matematika dan PJOK ini bertujuan untuk:
    a. Membantu guru dalam mengatur alokasi waktu Matematika dan PJOK dalam pembelajaran agar sesuai dengan struktur kurikulum;

    b. Membantu guru dalam merancang pembelajaran Matematika dan PJOK yang terpisah dari Tematik Terpadu agar tetap bermakna;

    c. Membantu guru dalam proses pembelajaran Matematika dan PJOK yang terpisah dari Tematik Terpadu agar berpusat pada siswa, kontekstual, dan bermakna. 

    d. Membantu kepala sekolah, pengawas dan pihak lain yang terkait dalam mendukung proses pembelajaran Matematika dan PJOK yang terpisah dari Tematik Terpadu agar berpusat pada siswa, kontekstual, dan bermakna.

    Sasaran
    Buku Panduan ini disusun agar proses pembelajaran di sekolah dasar dapat berjalan sesuai dengan harapan. Oleh karena itu, sasaran pengguna buku ini adalah unsur- unsur yang terlibat pada proses pembelajaran di sekolah dasar. Sasarannya adalah
    a. Guru kelas yang mengampu pembelajaran di kelas tinggi (kelas IV, V, dan VI);
    b. Guru PJOK
    c. Kepala Sekolah Dasar;
    d. Pengawas Sekolah Dasar 
    e. Dinas Pendidikan.

      Download Panduan Pembelajaran Matematika dan PJOK untuk SD/MI Kurikulum 2013

      Selengkapnya mengenai susunan dan isi berkas buku Panduan Pembelajaran Matematika dan PJOK untuk SD/MI Kurikulum 2013 ini silahkan lihat dan unduh pada link di bawah ini:

      Panduan Pembelajaran Matematika dan PJOK untuk SD/MI Kurikulum 2013



      Download File:

      Buku Panduan Pembelajaran Matematika dan PJOK untuk SD/MI Kurikulum 2013.pdf

      Demikian yang bisa kami sampaikan mengenai keterangan berkas dan share file buku Panduan Pembelajaran Matematika dan PJOK untuk SD/MI Kurikulum 2013. Semoga bisa bermanfaat.

      Lihat juga beberapa informasi dan berkas lainnya di bawah ini.


      Jumat, 28 Juli 2017

      Modul Penyusunan Soal Higher Order Thinking Skills (HOTS)

      Berikut ini adalah berkas buku Modul Penyusunan Soal Higher Order Thinking Skills (HOTS) untuk SMA Tahun 2017. Download file PDF. Panduan Penilaian oleh Pendidik dan Satuan Pendidikan Sekolah Menengah Atas ini merupakan naskah pendukung implementasi Kurikulum 2013 yang diterbitkan oleh Direktorat Pembinaan SMA, Direktur Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah, Kemdikbud RI.

      Modul Penyusunan Soal Higher Order Thinking Skills (HOTS)
      Modul Penyusunan Soal Higher Order Thinking Skills (HOTS)

      Modul Penyusunan Soal Higher Order Thinking Skills (HOTS)

      Berikut ini kutipan teks dari isi berkas Modul Penyusunan Soal Higher Order Thinking Skills (HOTS):

      Sebagaimana diamanatkan dalam Peraturan Menteri Pendidikan dan KebuKurikulum 2013 dikembangkan untuk mempersiapkan peserta didik agar memiliki kemampuan hidup sebagai pribadi dan warga negara yang beriman, produktif, kreatif, inovatif, dan afektif serta mampu berkontribusi pada kehidupan bermasyarakat, berbangsa, bernegara, dan peradaban dunia. Proses penerapannya dilakukan secara bertahap dan berkesinambungan sejak tahun pelajaran 2013/2014 agar terjadi penguatan dan peningkatan mutu di sekolah. Pada tahun pelajaran 2018/2019 seluruh satuan pendidikan diprogramkan sudah menerapkan Kurikulum 2013.

      Kebijakan Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah dalam implementasi Kurikulum 2013 adalah memberikan pelatihan dan pendampingan bagi guru dari sekolah yang akan melaksanakan Kurikulum 2013, dan mengembangkan naskah pendukung implementasi Kurikulum 2013 untuk Kepala Sekolah dan Guru. Melaksanakan kebijakan tersebut, Direktorat Pembinaan SMA pada tahun 2016 dan 2017 telah mengembangkan naskah-naskah pendukung implementasi Kurikulum 2013 berupa pedoman, panduan, model, dan modul sebagai referensi bagi Kepala Sekolah dan Guru dalam mengelola dan melaksanakan kegiatan pembelajaran dan penilaian.

      Naskah pendukung implementasi Kurikulum 2013 tersebut dalam penggunaannya dapat diimprovisasi, diinovasi dan dikembangkan lebih lanjut sepanjang tidak bertentangan dengan ketentuan yang berlaku. Oleh karena itu Kepala Sekolah dan Guru dituntut kritis, kreatif, inovatif, dan adaptif untuk dalam menggunakan naskah tersebut. Semoga naskah ini dapat menginspirasi Kepala Sekolah dan Guru untuk memberikan yang terbaik bagi peningkatan mutu pendidikan di SMA melalui Kurikulum 2013.

      Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan pada tahun pelajaran 2013/2014 telah menetapkan kebijakan implementasi Kurikulum 2013 secara terbatas di 1.270 SMA. Selanjutnya pada tahun pelajaran 2014/2015, Kurikulum 2013 dilaksanakan diseluruh SMA pada kelas X dan XI. Pada tahun 2014 dengan mempertimbangkan masih adanya beberapa kendala teknis, maka berdasarkan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Permendikbud) Nomor 160 Tahun 2014 tentang Pemberlakuan Kurikulum Tahun 2006 dan Kurikulum 2013 dilakukan penataan kembali implementasi Kurikulum 2013. Berdasarkan Permendikbud tersebut, Kurikulum 2013 diterapkan secara bertahap di satuan pendidikan mulai semester genap tahun pelajaran 2014/2015 sampai dengan tahun pelajaran 2018/2019.

      Melaksanakan implementasi Kurikulum 2013, Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah memprogramkan kegiatan pelatihan dan pendampingan bagi Guru dari sekolah yang akan melaksanakan Kurikulum 2013. Mendukung kebijakan tersebut, Direktorat Pembinaan SMA sesuai dengan tugas dan fungsinya melakukan fasilitasi pembinaan implementasi Kurikulum 2013 melalui pengembangan naskah pendukung implementasi Kurikulum 2013 berupa modul pelatihan, pedoman, panduan, dan model- model yang telah dikembangkan pada tahun 2016 dan tahun 2017. Naskah-naskah tersebut antara lain : (1) Model-Model Pembelajaran; (2) Model Pengembangan RPP; (3) Model Peminatan dan Lintas Minat; (4) Panduan Supervisi Akademik; (5) Panduan Pengembangan Pembelajaran Aktif; (6) Pedoman Penyelenggaraan Sistem Kredit Semester (SKS) Di SMA; (7) Panduan Pengembangan Unit Kegiatan Belajar Mandiri (UKBM); (8) Panduan Penilaian oleh Pendidik dan Satuan Pendidikan Sekolah Menengah Atas; (9) Modul Penyusunan Soal Higher Order Thinking Skills (HOTS); dan (10) Panduan Sukses E-Rapor SMA Versi 2017.

      Daftar Isi pada Modul Penyusunan Soal Higher Order Thinking Skills (HOTS) ini, antara lain:

      KATA PENGANTAR
      DAFTAR ISI

      Pendahuluan
      A. Rasional
      B. Bahan Bacaan
      C. Tujuan
      D. Hasil yang Diharapkan
      E. Fokus Modul

      Materi Pokok 1
      Pengertian Dan Konsep Soal HOTS
      A. Pengertian
      B. Karakteristik
      C. Level Kognitif
      D. Langkah-Langkah Penyusunan Soal HOTS

      Materi Pokok 2 
      Peran Soal HOTS dalam Penilaian 
      A. Penilaian
      B. Peran Soal HOTS dalam Penilaian

      Materi Pokok 3
      Strategi dan Implementasi Penyusunan Soal HOTS 
      A. Strategi
      B. Implementasi

      Penugasan dan Refleksi 
      A. Penugasan
      B. Refleksi

      Pendahuluan
      Modul ini terdiri atas 3 (tiga) materi pokok yang disusun sedemikian rupa sesuai dengan kebutuhan guru dalam penyusunan soal-soal HOTS. Penyajian materi pada modul ini diawali dengan pemaparan fokus dan uraian materi pada masing-masing materi pokok. Sedangkan pada bagian akhir modul dilengkapi dengan penugasan dan refleksi.

      Materi-materi pokok dalam modul ini adalah sebagai berikut :
      1. Materi Pokok 1: Pengertian dan Konsep Soal HOTS
      2. Materi Pokok 2: Peran Soal HOTS dalam Penilaian
      3. Materi Pokok 3: Strategi dan Implementasi Penyusunan Soal HOTS

      Rasional
      Permendikbud No. 59 Tahun 2014 tentang Kurikulum 2013 Sekolah Menengah Atas/Madrasah Aliyah pada lampiran I menyatakan bahwa salah satu dasar penyempurnaan kurikulum adalah adanya tantangan internal dan eksternal. Tantangan eksternal antara lain terkait dengan arus globalisasi dan berbagai isu yang terkait dengan masalah lingkungan hidup, kemajuan teknologi dan informasi, kebangkitan industri kreatif, budaya, dan perkembangan pendidikan di tingkat internasional.

      Terkait dengan isu perkembangan pendidikan di tingkat internasional, Kurikulum 2013 dirancang dengan berbagai penyempurnaan. Penyempurnaan antara lain dilakukan pada standar isi yaitu mengurangi materi yang tidak relevan serta pendalaman dan perluasan materi yang relevan bagi peserta didik serta diperkaya dengan kebutuhan peserta didik untuk berpikir kritis dan analitis sesuai dengan standar internasional. Penyempurnaan lainnya juga dilakukan pada standar penilaian, dengan mengadaptasi secara bertahap model-model penilaian standar internasional. Penilaian hasil belajar diharapkan dapat membantu peserta didik untuk meningkatkan kemampuan berpikir tingkat tinggi (Higher Order Thinking Skills/HOTS), karena berpikir tingkat tinggi dapat mendorong peserta didik untuk berpikir secara luas dan mendalam tentang materi pelajaran.

      Berdasarkan hasil studi internasional Programme for International Student Assessment (PISA) menunjukkan prestasi literasi membaca (reading literacy), literasi matematika (mathematical literacy), dan literasi sains (scientific literacy) yang dicapai peserta didik Indonesia sangat rendah. Pada umumnya kemampuan peserta didik Indonesia sangat rendah dalam: (1) memahami informasi yang kompleks; (2) teori, analisis, dan pemecahan masalah; (3) pemakaian alat, prosedur dan pemecahan masalah; dan (4) melakukan investigasi.

      Berdasarkan kenyataan-kenyataan di atas, maka perlu adanya perubahan sistem dalam pembelajaran dan penilaian.Penilaian yang dikembangkan oleh guru diharapkan dapat mendorong peningkatan kemampuan berpikir tingkat tinggi, meningkatkan kreativitas, dan membangun kemandirian peserta didik untuk menyelesaikan masalah. Oleh karena itu Direktorat Pembinaan SMA menyusun Modul Penyusunan Soal HOTS bagi guru SMA.

      Bahan Bacaan
      Anda diwajibkan untuk membaca Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan yang berkaitan dengan Standar Penilaian dan Penilaian Hasil Belajar Peserta Didik oleh Pendidik dan Satuan Pendidikan beserta lampiran-lampirannya.

      Selain itu Anda diwajibkan menguasai naskah-naskah yang diterbitkan Direktorat Pembinaan SMA antara lain:
      1. Modul Pengembangan Butir Soal dan Analisis Butir Soal;
      2. Modul Pembinaan Pasca EHB sesuai mata pelajaran yang diampu;
      3. Panduan Penilaian di SMA.

      Tujuan
      Modul penyusunan soal HOTSuntuk penilaiandisusun dengan tujuan sebagai berikut.
      1. Memberikan pemahaman kepada guru SMA tentang konsep penyusunan soal HOTS;
      2. Mengembangkan keterampilan guru SMA untuk menyusun butir soal HOTS;
      3. Memberikan pedoman bagi pengambil kebijakan baik di tingkat pusat dan daerah untuk melakukan pembinaan dan sosialisasi tentang penyusunan soal HOTS.

      Hasil Yang Diharapkan
      Sesuai dengan tujuan penyusunan modul di atas, maka hasil yang diharapkan adalah sebagai berikut:
      1. Meningkatnya pemahaman guru SMA tentang konsep penyusunan soal HOTS;
      2. Meningkatnya keterampilan guru SMA untuk menyusun butir soal HOTS;
      3. Terorganisirnya pola pembinaan dan sosialisasi tentang penyusunan soal HOTS.

      Fokus Modul
      Modul ini terdiri atas 3 (tiga) materi pokok yang masing-masing membahas materi yang saling berkaitan satu sama lain, terdiri atas:
      1. Materi Pokok 1: Pengertian dan Konsep Soal HOTS
      Bagian ini membahas tentang pengertian dan konsep soal HOTS, karakteristik soal-soal HOTS yang merupakan ciri khas soal HOTS dengan soal-soal bukan HOTS, level kognitif, dan langkah- langkah menyusun soal HOTS. Selain itu, pada bagian ini juga dipaparkan tentang bentuk- bentuk soal HOTS.

      2. Materi Pokok 2: Peran Soal HOTS dalam Penilaian
      Bagian ini membahas tentang peran soal HOTS dalam Penilaian disekolah, terkait dengan upaya penyiapan kompetensi yang dibutuhkan peserta didik menyongsong abad ke-21. Membangun kemampuan berpikir kreatif, inovatif, kritis, dan toleran serta kemampuan pemecahan masalah merupakan kompetensi esensial yang dapat dilatih berbasis pembelajaran dan penilaian kelas. Peran soal HOTS lainnya dalam penilaianadalah meningkatkan mutu penilaian, membangun rasa cinta dan peduli peserta didik terhadap kemajuan daerahnya, serta dapat memotivasi siswa belajar sebagai bekal terjun ke masyarakat.

      3. Materi Pokok 3: Strategi dan Implementasi Penyusunan Soal HOTS
      Pada bagian ini membahas tentang Strategi dan Implementasi Penyusunan Soal HOTS, dimulai dari kebijakan di tingkat pusat (Direktorat Pembinaan SMA), dinas pendidikan provinsi dan kabupaten/kota, sampai pada implementasinya pada tingkat satuan pendidikan. Semua komponen harus terlibat secara aktif untuk ikut ambil bagian dalam melaksanakan kebijakan tentang penilaian hasil belajar menggunakan soal-soal yang HOTS dalam Penilaian.

      Pengertian
      Soal-soal HOTS merupakan instrumen pengukuran yang digunakan untuk mengukur kemampuan berpikir tingkat tinggi, yaitu kemampuan berpikir yang tidak sekadar mengingat (recall), menyatakan kembali (restate), atau merujuk tanpa melakukan pengolahan (recite). Soal-soal HOTS pada konteks asesmen mengukur kemampuan: 1) transfer satu konsep ke konsep lainnya, 2) memproses dan menerapkan informasi, 3) mencari kaitan dari berbagai informasi yang berbeda-beda, 4) menggunakan informasi untuk menyelesaikan masalah, dan 5) menelaah ide dan informasi secara kritis. Meskipun demikian, soal-soal yang berbasis HOTS tidak berarti soal yang lebih sulit daripada soal recall.

      Dilihat dari dimensi pengetahuan, umumnya soal HOTS mengukur dimensi metakognitif, tidak sekadar mengukur dimensi faktual, konseptual, atau prosedural saja.Dimensi metakognitif menggambarkan kemampuan menghubungkan beberapa konsep yang berbeda, menginterpretasikan, memecahkan masalah (problem solving), memilih strategi pemecahan masalah, menemukan (discovery) metode baru, berargumen (reasoning), dan mengambil keputusan yang tepat.

      Dimensi proses berpikir dalam Taksonomi Bloom sebagaimana yang telah disempurnakan oleh Anderson & Krathwohl (2001), terdiri atas kemampuan: mengetahui (knowing-C1), memahami (understanding-C2), menerapkan (aplying-C3), menganalisis (analyzing-C4), mengevaluasi (evaluating-C5), dan mengkreasi (creating-C6). Soal-soal HOTS pada umumnya mengukur kemampuan pada ranah menganalisis (analyzing-C4), mengevaluasi (evaluating-C5), dan mengkreasi (creating-C6).Pada pemilihan kata kerja operasional (KKO) untuk merumuskan indikator soal HOTS, hendaknya tidak terjebak pada pengelompokkan KKO.Sebagai contoh kata kerja ‘menentukan’ pada Taksonomi Bloom ada pada ranah C2 dan C3. Dalam konteks penulisan soal-soal HOTS, kata kerja ‘menentukan’ bisa jadi ada pada ranah C5 (mengevaluasi) apabila untuk menentukan keputusan didahului dengan proses berpikir menganalisis informasi yang disajikan pada stimulus lalu peserta didik diminta menentukan keputusan yang terbaik. Bahkan kata kerja ‘menentukan’ bisa digolongkan C6 (mengkreasi) bila pertanyaan menuntut kemampuan menyusun strategi pemecahan masalah baru. Jadi, ranah kata kerja operasional (KKO) sangat dipengaruhi oleh proses berpikir apa yang diperlukan untuk menjawab pertanyaan yang diberikan.

      Pada penyusunan soal-soal HOTS umumnya menggunakan stimulus.Stimulus merupakan dasar untuk membuat pertanyaan.Dalam konteks HOTS, stimulus yang disajikan hendaknya bersifat kontekstual dan menarik.Stimulus dapat bersumber dari isu-isu global seperti masalah teknologi informasi, sains, ekonomi, kesehatan, pendidikan, dan infrastruktur.

      Stimulus juga dapat diangkat dari permasalahan-permasalahan yang ada di lingkungan sekitar satuan pendidikan seperti budaya, adat, kasus-kasus di daerah, atau berbagai keunggulan yang terdapat di daerah tertentu. Kreativitas seorang guru sangat mempengaruhi kualitas dan variasi stimulus yang digunakan dalam penulisan soal HOTS.

      Karakteristik
      Soal-soal HOTS sangat direkomendasikan untuk digunakan pada berbagai bentuk penilaian kelas. Untuk menginspirasi guru menyusun soal-soal HOTS di tingkat satuan pendidikan, berikut ini dipaparkan karakteristik soal-soal HOTS.

      1. Mengukur kemampuan berpikir tingkat tinggi
      The Australian Council for Educational Research (ACER) menyatakan bahwa kemampuan berpikir tingkat tinggi merupakan proses: menganalisis, merefleksi, memberikan argumen (alasan), menerapkan konsep pada situasi berbeda, menyusun, menciptakan. Kemampuan berpikir tingkat tinggi bukanlah kemampuan untuk mengingat, mengetahui, atau mengulang.Dengan demikian, jawaban soal-soal HOTS tidak tersurat secara eksplisit dalam stimulus.

      Kemampuan berpikir tingkat tinggi termasuk kemampuan untuk memecahkan masalah (problem solving), keterampilan berpikir kritis (critical thinking), berpikir kreatif (creative thinking), kemampuan berargumen (reasoning), dan kemampuan mengambil keputusan (decision making).Kemampuan berpikir tingkat tinggi merupakan salah satu kompetensi penting dalam dunia modern, sehingga wajib dimiliki oleh setiap peserta didik.

      Kreativitas menyelesaikan permasalahan dalam HOTS, terdiri atas:
      a. kemampuan menyelesaikan permasalahan yang tidak familiar; b. kemampuan mengevaluasi strategi yang digunakan untuk menyelesaikan masalah dari berbagai sudut pandang yang berbeda; c. menemukan model-model penyelesaian baru yang berbeda dengan cara-cara sebelumnya.

      ‘Difficulty’ is NOT same as higher order thinking. Tingkat kesukaran dalam butir soal tidak sama dengan kemampuan berpikir tingkat tinggi. Sebagai contoh, untuk mengetahui arti sebuah kata yang tidak umum (uncommon word) mungkin memiliki tingkat kesukaran yang sangat tinggi, tetapi kemampuan untuk menjawab permasalahan tersebut tidak termasuk higher order thinking skills.Dengan demikian, soal-soal HOTS belum tentu soal-soal yang memiliki tingkat kesukaran yang tinggi.

      Kemampuan berpikir tingkat tinggi dapat dilatih dalam proses pembelajaran di kelas. Oleh karena itu agar peserta didik memiliki kemampuan berpikir tingkat tinggi, maka proses pembelajarannya juga memberikan ruang kepada peserta didik untuk menemukan konsep pengetahuan berbasis aktivitas. Aktivitas dalam pembelajaran dapat mendorong peserta didik untuk membangun kreativitas dan berpikir kritis.

      2. Berbasis permasalahan kontekstual
      Soal-soal HOTS merupakan asesmen yang berbasis situasi nyata dalam kehidupan sehari-hari, dimana peserta didik diharapkan dapat menerapkan konsep-konsep pembelajaran di kelas untuk menyelesaikan masalah.Permasalahan kontekstual yang dihadapi oleh masyarakat dunia saat ini terkait dengan lingkungan hidup, kesehatan, kebumian dan ruang angkasa, serta pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam berbagai aspek kehidupan.Dalam pengertian tersebut termasuk pula bagaimana keterampilan peserta didik untuk menghubungkan (relate), menginterpretasikan (interprete), menerapkan (apply) dan mengintegrasikan (integrate) ilmu pengetahuan dalam pembelajaran di kelas untuk menyelesaikan permasalahan dalam konteks nyata.

      Berikut ini diuraikan lima karakteristik asesmen kontekstual, yang disingkat REACT.
      a. Relating, asesmen terkait langsung dengan konteks pengalaman kehidupan nyata.
      b. Experiencing, asesmen yang ditekankan kepada penggalian (exploration), penemuan (discovery), dan penciptaan (creation).
      c. Applying, asesmen yang menuntut kemampuan peserta didik untuk menerapkan ilmu pengetahuan yang diperoleh di dalam kelas untuk menyelesaikan masalah-masalah nyata.
      d. Communicating, asesmen yang menuntut kemampuan peserta didik untuk mampu mengomunikasikan kesimpulan model pada kesimpulan konteks masalah.
      e. Transfering, asesmen yang menuntut kemampuan peserta didik untuk mentransformasi konsep-konsep pengetahuan dalam kelas ke dalam situasi atau konteks baru. 

      Ciri-ciri asesmen kontekstual yang berbasis pada asesmen autentik, adalah sebagai berikut.
      a. Peserta didik mengonstruksi responnya sendiri, bukan sekadar memilih jawaban yang tersedia;
      b. Tugas-tugas merupakan tantangan yang dihadapkan dalam dunia nyata;
      c. Tugas-tugas yang diberikan tidak hanya memiliki satu jawaban tertentu yang benar, tetapi memungkinkan banyak jawaban benar atau semua jawaban benar.

          Download Modul Penyusunan Soal Higher Order Thinking Skills (HOTS)

          Selengkapnya mengenai susunan dan isi berkas Modul Penyusunan Soal Higher Order Thinking Skills (HOTS) ini silahkan lihat dan unduh pada link di bawah ini:

          Modul Penyusunan Soal Higher Order Thinking Skills (HOTS)



          Download File:
          Modul Penyusunan Soal Higher Order Thinking Skills (HOTS) SMA - 2017.pdf

          Sumber: http://psma.kemdikbud.go.id

          Demikian yang bisa kami sampaikan mengenai keterangan berkas dan share file Modul Penyusunan Soal Higher Order Thinking Skills (HOTS). Semoga bisa bermanfaat.

          Lihat juga beberapa informasi dan berkas terkait dengan SMA di bawah ini.


          Follow Me

          Popular Posts